Melihat sumber sedimen di Citarik Hulu

Situasi 09 Januari 2020, hujan sedang.

WhatsApp Image 2020-01-12 at 16.36.08.jpeg

Citarik Hulu di titik peilschaal rusa, coklat

WhatsApp Image 2020-01-12 at 16.37.23.jpeg

Aliran dari Cigumentong, relatif bersih

WhatsApp Image 2020-01-12 at 16.40.14.jpeg

Aliran dari Gentong, keruh

situasi gentong.jpg

Situasi 1

situasi gentong 2.jpg

Situasi 2

Solusi?

Peraturan Gubernur 33 tahun 2019 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perda 5 2015 tentang Pengelolaan Jasa Lingkungan Hidup

Pengelolaan Jasa Lingkungan Hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi jasa lingkungan hidup meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pembinaan, pengendalian, dan pengawasan.

Pengelolaan ini bertujuan untuk:

  1. Membangun dan mengembangkan kerjasama hulu-hilir dalam pengelolaan jasa lingkungan hidup melalui skema kompensasi/imbal jasa lingkungan hidup di Daerah Propinsi Jawa Barat; dan
  2. Mewujudkan kelembagaan kolaborasi multipihak dalam pengelolaan jasa lingkungan hidup di Daerah Propinsi Jawa Barat.

Sedangkan sasaran pengelolaan ini yaitu:

  1. Terwujudnya kerja sama hulu-hilir melalui skema kompensasi/imbal jasa lingkungan hidup; dan
  2. Terbentuknya lembaga kolaborasi multipihak pengelolaan jasa lingkungan hidup.

Sedangkan pelaksanaan pengelolaan akan tertuan dalam Rencana Pengelolaan Jasa Lingkungan Hidup yang dilakukan secara multipihak. Para pihak tersebut dapat terdiri dari a) pemerintah pusat, b) pemerintah daerah lain, c) lembaga penelitian, d) perguruan tinggi, e) badan usaha, dan f) pihak lainnya sesuai peraturan perundang-undangan.

  1. PERGUB 33 Tahun 2019-Juklak Pengelolaan Jasa Lingkungan (searchable pdf)
  2. Peraturan Daerah Provisni_Jawa Barat No. 5 tahun 2015 tentang Pengelolaan Jasa Lingkungan Hidup

 

 

 

Pendataan Sungai Ci Tarik Hulu

logo kembara citarikPada bulan Mei – Agustus tahun 2018, tim anggota muda Wanadri melaksanakan rangkaian kegiatan dalam rangka ekspedisi pendataan yang bertajuk Kembara Citarik. Kegitan ini bertujuan untuk 1) melakukan identifikasi kualitas dan kondisi baku mutu di Sungai Citarik serta 2) mendapatkan gambaran mengenai kondisi sosial, ekonomi, budaya dan kelembagaan (SOSEKBUDLEM) yang ada di masyarakat sekitar sungai Ci Tarik, khususnya pada segmen hulu.

Identifikasi kualitas dan baku mutu air sungai dilakukan selama 3 hari. Kegiatan ini bekerja sama dengan Kementerian LHK, Ditjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan berupa workshop pengambilan sampel air. Dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung untuk analisis laboratorium. Stasiun pengambilan sampel air dibagi menjadi 14 stasiun dimulai dari hulu hingga hilir Sungai Ci Tarik di paseh.

Hasil pengamatan dan analisis laboratorium secara umum menunjukan bahwa sebanyak 9 stasiun masuk kategori cemar sedang dan 5 stasiun lainnya cemar buruk. Salah satu faktor penyebab tercemarnya seluruh stasiun ini adalah dari sisi biologi yaitu Total Coliform. Total Coliform merupakan total bakteri yang ditemukan di dalam tanah, di dalam air yang dipengaruhi air permukaan dan pada kotoran manusia atau hewan. Jumlah Total Coliform memberikan indikasi umum kondisi sanitasi dari suatu badan perairan. Untuk stasiun yang berada diwilayah hilir (sekitar Rancaekek dan Sapan) kondisi perairannya diduga dipengaruhi oleh kegiatan industri, hal tersebut dilihat dari beberapa parameter seperti BOD dan COD yang cukup tinggi.

Dari kegiatan pendataan sosekbodlem, secara umum dapat disimpulkan bahwa sungai belum menjadi kebutuhan utama dan dirasa tidak memiliki kontribusi yang signifikan terhadap ekonomi bagi masyarakat di sekitar Sungai Citarik. Hal ini disampaikan langsung oleh sebagian masayarakat serta terlihat dalam kehidupan keseharian mereka yang masih membuang sampah dan mengalirkan limbah rumah tangga ke sungai.

Dari hasil kegiatan tersebut, hal utama yang harus dilakukan adalah peningkatan kesadaran terhadap masyarakat mengenai pentingnya sungai dengan cara membuat sungai bermanfaat (khususnya secara ekonomi) secara langsung bagi masyarakat. Percepatan perbaikan kondisi Sungai Citarum juga ditentukan oleh kondisi Sub DAS dari Sungai Citarum dan kesadaran seluruh masyarakat. Sekecil apapun usaha yang kita lakukan, dapat berkontribusi untuk menjadikan “Citarum Harum”.

Dokumen:

2018 Kembara Citarik – Laporan Pendataan SOSEKBUDLEM

Perkembangan 2 tahun Citarum Harum

 

ppk das citarum.jpg

Gubernur Jawa Barat pada 17 Oktober 2019 memaparkan perkembangan 2 tahun program Citarum Harum. “Dilaporkan selama dua tahun progres perbaikan sudah mencapai angka sekira 30 persen dari target. Di akhir 2023 progres harus sudah mendekati target (100 persen),” ucap Emil, di Gedung Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jakarta, Kamis (17/10) seperti dikutip dari RMOL Jabar.

Bahan-bahan paparan sbb:

  1. Perkembangan Program Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum, oleh Gubernur Jawa Barat 
  2. Sosialisasi dan Sinkronisasi Rencana Aksi PPK DAS Citarum, oleh Bappeda Propinsi Jawa Barat/ SATGAS PPK DAS Citarum
  3. Rapat Koordinasi dan Evaluasi 2 Tahun PPK DAS Citarum, oleh Kemenko Maritim

UU 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air

Rapat Paripurna DPR telah mengesahkan RUU Sumber Daya Air menjadi undang-undang, Selasa (17/9). Berbagai pihak sempat mengkritisi RUU ini, diantaranya seperti dilansir oleh beritasatu, cnnindonesia dan diulas juga oleh tirto.

Pasal yang dinilai bermasalah dalam RUU diantaranya Pasal 44, 45, 46, 56 dan 69 (oleh Walhi), Pasal 47 dan 51 (oleh Pengusaha).

Bagaimana pendapat anda?

UU17_2019_Sumber_Daya_Air

Pengecekan Hulu Sungai Ci Tarik

hulu sungai ci tarik.jpg

Pendokumentasian dan pengukuran kecepatan aliran hulu sungai Ci Tarik di dalam kawasan TB. Masigit Kareumbi – 6°57’21″S 107°56’23″E

26 September 2019 pada saat puncak kemarau: Flow 0,4 m/s, debit >3 liter / menit.

Apabila dilihat dari peta, ada kemungkinan ini bukan hulu sungai Ci Tarik. Namun kami belum menemukan titik mata air yang lebih tinggi dari titik ini. Mungkin pada kesempatan lain kita cari kembali 🙂

Video diatas adalah kondisi hulu sungai Ci Tarik ketika musim hujan, pada 11 April 2019. Sedangkan video dibawah adalah pada musim kemarau tanggal 26 September 2019 dimana nyaris 4 bulan di kawasan tidak turun hujan.

Sementara itu di hilir sungai juga mengalami kekeringan yang parah.