Tag Archives: pertanian ramah lingkungan

Citarik Hulu: Case Study: Ciaro

2013 Ciaro.jpg

Sebagian lahan Ciaro, eks Perkebunan Sindoelang (foto 2013)

SITUASI UMUM
1. Terdapat lahan eks Perkebunan Sindoelang (jaman Belanda) yang saat ini memiliki rasio tegakan pohon yang sangat rendah
2. Sebagian besar tidak dimanfaatkan dan hanya berupa semakan. Menurut wawancara singkat, tidak dimanfaatkan untuk pertanian karena masalah tenurial dan ketersediaan air
3. Luas tangkapan air ±330 hektar dan terdapat 4 anak sungai yang mengalir ke sungai Citarik.
4. Sebelah selatan berbatasan langsung dengan kawasan konservasi TBMK

PENGGUNAAN
1. Untuk lahan yang terdapat pengairan, terlihat juga digunakan untuk pertanian sayuran/hortikultura dengan jenis komoditi pada umumnya Tomat, cabe dan Kol.
2. Penggunaanya sebagian kecil saat ini adalah pertanian lahan kering dengan komoditi al: Jagung dan Tembakau
3. Sering dijadikan lintasan pegiat offroad baik roda 2 maupun roda 4
4. Ada beberapa unit rumah pertanian, diperkirakan milik orang kota (perlu di identifikasi lebih lanjut)
5. Sering dijadikan area untuk berburu (babi hutan)

TENURIAL
– (belum teridentifikasi)
namun menurut cerita yang beredar sudah dilakukan redistribusi (redis) kepada para pemilik individu dan dimiliki beberapa eks petinggi dan pejabat pemerintahan (perlu dikonfirmasi ulang)

POTENSI TEKANAN/ POLUTAN
Sedimentasi dan juga residu pupuk serta pestisida

POTENSI DAN IDE PENGELOLAAN
1. Buffer zona untuk kawasan konservasi TBMK
2. Calon lokasi pemindahan perkampungan enclave dari dalam kawasan hutan -> menjadi desa wisata atau desa adat
3. Pemandangan indah untuk wisata dan aktifitas luar ruang
4. Peternakan rusa sebagai buffer stok taman buru

USULAN PENANGANAN
1. Identifikasi tenurial -> tata guna lahan dan pengelolaan terpadu
2. Sosialisasi konservasi tanah -> identifikasi pengguna -> demplot agroforestry
3. Pembangunan dan pemeliharaan sabuk hijau di sepanjang bantaran sungai
4. Bangunan konservasi air dan tanah
5. Zonasi untuk lahan kampung enclave dan peternakan rusa

 

Citarik Hulu: Case Study: Empang

20180329_155607_stitch

Lokasi Empang, disekelilingnya (selatan – barat – utara) adalah pertanian dengan mulsa plastik. Tinggal tersisa kolam kecil di sebelah kiri (selatan).

Menurut cerita warga, lokasi Empang dulunya adalah situ (danau kecil). Warga bisa berenang, menggunakan rakit, dan memancing ikan. Seorang warga berkata airnya cukup dalam sambil ketika ditanya tidak bisa menunjukkan seberapa dalam.. mungkin sudah lupa. Apapun, saat ini empang sudah menjadi lapangan. Tinggal tersisa secuil kolam air dan sisanya lahan rumput yang agak berair. Mataair yang ada di pojok di dekat rumpun bambu pun sudah tidak terlihat lagi, mungkin terkubur.

Penyebabnya? tentu saja pelumpuran, sedimentasi, erosi atau apapun namanya yang turun dari lahan pertanian diatasnya. Pelumpuran ini sangat terasa dalam 3-4 tahun terakhir dimana petani mulai menggunakan plastik sebagai mulsa tanah. Selain itu pengolahan tanah yang dilakukan juga seringkali memotong lereng. Hal ini menyebabkan air larian yang membawa lumpur semakin tinggi.

Terbersit upaya untuk menatanya sejak beberapa tahun yang lalu, semoga dengan semangat Citarum Harum hal ini bisa kita mulai sentuh.

Unduh File KMZ untuk Empang Case