Category Archives: peta

Dokumen Rencana Sungai Citarum dari PU dan Bappenas

Paket Investasi Terpadu Sungai Citarik (Bappenas, 2015, hal.17)

Beberapa dokumen perencanaan sungai Citarum:

  1. Rencana-Pengelolaan-Sumber-Daya-Air-WS-Citarum, Kementrian PU, 2016
  2. Cita Citarum: Roadmap 2015 Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu, Wilayah Sungai Citarum, Bappenas, ICWRMIP 2015

Pada kedua dokumen tersebut tertera berbagai peta DAS dan Sub-DAS di Sungai Citarum.

Infografis Kembara Citarik Wanadri

logo kembara citarikBerikut adalah infografis/ poster yang di buat oleh Tim Kembara Citarik – Wanadri dari hasil ekspedisi mereka tahun 2018.

  1. Dusun Cigumentong dan Cimulu
  2. Desa Sindulang
  3. Desa Tegalmanggung
  4. Desa Cimanggung
  5. Desa Sindangpakuwon
  6. Desa Tanjungwangi
  7. Desa Dampit
  8. Poster Kualitas Air Sungai Citarik
  9. Resume semua Desa

 

Story Map Kembara Citarik

logo kembara citarikTim Ekspedisi Kembara Citarik – Wanadri telah menyelesaikan pengembaraannya dalam misi melakukan pendataan terhadap kualitas air serta dinamika sosial ekonomi budaya dan kelembagaan (sosekbudlem) di sekitar daerah aliran sungai Citarik yang merupakan anak sungai Citarum.

Cerita pengembaraan dan ringkasan data yang mereka peroleh, dirangkum dan direpresentasikan dalam sebuah peta-cerita (story-map) yang difasilitasi oleh aplikasi ESRI. Selain itu, tim juga sedang berkutat menyelesaikan 1) buku laporan (tiga buku), 2) lembaran infografis per-desa yang dilalui sungai Citarik, dan 3) Booklet album foto Citarik.

http://bit.ly/kembaracitarik

Peta-cerita tim Kembara dapat diakses di http://bit.ly/kembaracitarik

 

 

PETA: Dataset Kawasan Hutan di sekitar Situ Cisanti

Kawasan hutan di sekitar Situ Cisanti terdiri dari Hutan Lindung (HL) dibawah PT. Perhutani dan Cagar Alam (CA) dibawah pemangkuan BBKSDA Jabar.

Dataset dalam format KMZ yang bisa di buka di Google Earth. Untuk mendownload peta ini klik kotak “View Larger Map”, selanjutnya pilih options dan klik “Download KML”.

 

Citarik Hulu: Case Study: Cigumentong

Unduh file KMZ untuk Cigumentong Case

1. SITUASI UMUM

Terdapat lahan ENCLAVE Kp. Cigumentong (±30 hektar) dan populasi sekitar 18 KK. Kampung berbatasan langsung dengan kawasan konservasi TB Masigit Kareumbi.

2. PERTANIAN

Komoditi sayuran tumpang sari cabe, tomat dan kol. Pola guludan memotong kontur sehingga mempercepat erosi permukaan. Petani menanam sayuran sampai di pinggir sungai sehingga beberapa titik mengalami erosi/longsor.

3. TENURIAL

Berdasarkan delineasi yang dilakukan diatas citra Google Earth Maret 2018, didapatkan land use sebagai berikut:

Land Use Cigumentong
No Penggunaan Luas Satuan
1 Pertanian sayuran 17,6 hektare
2 Pemukiman 0,75 hektare
3 Hutan tanaman 9,35 hektare
TOTAL 27,7 hektare
  • Pemilik lahan belum semuanya teridentifikasi

4. POTENSI TEKANAN/ POLUTAN

a. Redisu Pestisida, Residu pupuk kimia, sedimentasi, sampah domestik (plastik) dan warga tidak menggunakan septic tank (menggunakan kolam)5. POTENSI KONSERVASI

a. Tutupan sekitar area masih cukup baik
b. Terdapat upaya penghijauan lahan di sebelah utara, dan pohonnya sudah mulai besar (pohon kayu Maesopsis eminii)
c. Terdapat upaya konservasi dengan pola Wali Pohon di sekitar batas kawasan-kampung.

6. USULAN PENANGANAN

a. Identifikasi tenurial -> tata guna lahan -> skema agroforestri
b. Sosialisasi tentang konservasi tanah -> identifikasi pengguna -> demplot pertanian ramah lingkungan -> Penggunaan kompos dan minimalisasi pestisida kimia
c. Develop sabuk hijau di pinggir bantaran sungai
d. Develop manajamen sampah (plastik) skala kecil
e. Pengukuran tingkat pencemaran limbah domestik (eq: fecal coliform) di kolam ikan milik warga dan identifikasi lebih lanjut apakah sudah mencemari sungai
f. Revitalisasi rawa/ranca Cigumentong sebagai retensi: identifikasi tenurial -> desain revitalisasi

rawa cigumentong 03-2018

Ranca Cigumentong (±3000 m2)

CATATAN UNTUK PESTISIDA SINTETIK

Pestisida terutama jenis sintetik dapat memberikan pengaruh terhadap lingkungan (Lumowa& Nurbayah, 2017). Penggunaan pestisida sintetik dapat meninggalkan residu yang berbahaya pada tanaman maupun lingkungan, dan tidak mudah terurai di alam (Direktorat Bina Perlindungan Tanaman Sri Purwati Pendidikan Biologi FKIP UNMUL 154 Perkebunan, 1994). Dampak penggunaan pestisida sintetik dapat berbahaya bagi kelangsungan hidup tumbuhan, biota akuatik, burung, kesehatan manusia (Hernayanti, 2015) dan menyebabkan resistensi terhadap serangga (Wang, et al., 2015).

Citarik Hulu: Case Study: Empang

20180329_155607_stitch

Lokasi Empang, disekelilingnya (selatan – barat – utara) adalah pertanian dengan mulsa plastik. Tinggal tersisa kolam kecil di sebelah kiri (selatan).

Menurut cerita warga, lokasi Empang dulunya adalah situ (danau kecil). Warga bisa berenang, menggunakan rakit, dan memancing ikan. Seorang warga berkata airnya cukup dalam sambil ketika ditanya tidak bisa menunjukkan seberapa dalam.. mungkin sudah lupa. Apapun, saat ini empang sudah menjadi lapangan. Tinggal tersisa secuil kolam air dan sisanya lahan rumput yang agak berair. Mataair yang ada di pojok di dekat rumpun bambu pun sudah tidak terlihat lagi, mungkin terkubur.

Penyebabnya? tentu saja pelumpuran, sedimentasi, erosi atau apapun namanya yang turun dari lahan pertanian diatasnya. Pelumpuran ini sangat terasa dalam 3-4 tahun terakhir dimana petani mulai menggunakan plastik sebagai mulsa tanah. Selain itu pengolahan tanah yang dilakukan juga seringkali memotong lereng. Hal ini menyebabkan air larian yang membawa lumpur semakin tinggi.

Terbersit upaya untuk menatanya sejak beberapa tahun yang lalu, semoga dengan semangat Citarum Harum hal ini bisa kita mulai sentuh.

Unduh File KMZ untuk Empang Case